Berikut adalah resensi dari buku “Syair Rubai Syariat Musafir” berdasarkan informasi yang terdapat dalam sumber:

Identitas Buku

  • Judul: Syair Rubai Syariat Musafir
  • Penulis: Thayeb Loh Angen (Muhammad Thaib bin Sulaiman)
  • Penerbit: The Gayo Institute (TGI) bekerjasama dengan PT. Portal Media Utama dan Portalsatu.com
  • Tahun Terbit: Cetakan Pertama, April 2026
  • Tebal Buku: xiii + 90 Halaman

Pendahuluan
Buku “Syair Rubai Syariat Musafir” merupakan sebuah karya sastra yang lahir dari perenungan mendalam dan kesaksian hidup penulisnya, Thayeb Loh Angen. Menariknya, penulis adalah seorang mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang memilih untuk mengalihkan bentuk perjuangannya melalui medium tulisan dan sastra. Buku ini bukan sekadar antologi puisi biasa, melainkan sebuah rekaman perjalanan spiritual, sejarah, dan kearifan lokal yang disajikan dengan genre yang khas.

Isi dan Tema Utama
Secara keseluruhan, buku ini memuat 59 syair yang menggunakan struktur Rubai, yaitu puisi empat baris (kuatrain) berskema rima umum yang berakar pada tradisi sastra Persia seperti karya Omar Khayyam, serta karya klasik Nusantara dari Hamzah Fansuri.

Tema utama yang diangkat dalam buku ini sangat kaya dan multidimensi:

  1. Perjalanan Spiritual (Syariat Musafir): Penulis memposisikan dirinya sebagai seorang “pengembara” atau musafir fakir di dunia yang fana, yang terus berupaya menyucikan jiwa dan mencari jalan pulang kepada Allah melalui jalur syariat. Puisi-puisi seperti “Tubuh dan Ruh” dan “Nafsu dan Akal” menyoroti pertarungan batin manusia dalam menundukkan hawa nafsu.
  1. Kesaksian Sejarah dan Sosial: Berbeda dengan puisi personal pada umumnya, Thayeb menyisipkan peristiwa sejarah penting. Ia merekam kejayaan Aceh masa lampau, hubungan diplomatik Aceh dengan Kesultanan Utsmani (Turki), pelestarian rumpun Melayu-Aceh di Selat Malaka, hingga peristiwa modern seperti Perang Aceh dan perdamaian MoU Helsinki.
  1. Refleksi Kehidupan Sehari-hari: Terdapat pula kritik sosial dan perenungan dari hal-hal sederhana namun filosofis, seperti peran media massa (“Kami Media Arus Utama”) dan rasa syukur atas secangkir kopi (“Secangkir Kopi Susu di Meja”).

Gaya Bahasa dan Keunikan
Satu hal yang paling menonjol dari buku ini adalah konsistensi penulis dalam menggunakan format Rubai. Bahkan, pengantar penulis dan riwayat hidup (biodata) di dalam buku ini tidak ditulis dalam bentuk narasi biasa, melainkan sepenuhnya digubah dalam bentuk syair. Dr. Salman Yoga S, dalam pengantarnya, memuji hal ini sebagai teknik ilmu komunikasi yang langka, di mana sastra bertindak sebagai media dan penyampai pesan nilai peradaban.

Bahasa yang digunakan sangat sarat dengan nuansa tasawuf, ketuhanan, dan pertaubatan seorang hamba yang merasa “berlumuran dosa” namun sangat mengharapkan rahmat serta ampunan Sang Pencipta.

Kelebihan Buku

  • Membangkitkan Tradisi Lama: Buku ini berhasil menghidupkan kembali tradisi kesusastraan awal Islam di Nusantara (seperti era Syamsuddin As-Sumatrani dan Hamzah Fansuri) di tengah era modern.
  • Nilai Sejarah dan Perdamaian: Mengandung nilai historis yang kuat, terutama dalam mensyukuri anugerah perdamaian Aceh setelah konflik panjang, yang digambarkan sebagai “wujud cinta Allah untuk kita”.
  • Pendekatan Dakwah: Penulis menggunakan seni dan budaya (sastra) sebagai media dakwah yang santun, mencontohkan bahwa seni bisa sejalan dengan syiar Islam.

Kesimpulan
Buku “Syair Rubai Syariat Musafir” sangat direkomendasikan bagi pembaca yang menyukai sastra sufistik, puisi-puisi religi, serta sejarah Aceh dan Melayu. Karya Thayeb Loh Angen ini menjadi bukti bahwa masa lalu yang keras dan penuh konflik dapat ditransformasikan menjadi syair-syair cinta, kedamaian, dan kerinduan yang mendalam kepada Ilahi.