BAB III

PENA, KAMPUS, DAN HIKAYAT

49

Ada manusia mengejar gelar,
agar namanya mudah terdengar,
ada pula yang setelah belajar,
kembali mencari makna yang benar.

T.A. Sakti memilih jalan kedua,
ilmu tidak disimpan menjadi angka,
kampus bukan sekadar tempat bekerja,
tetapi pintu menuju masyarakat dan bangsa.

50

Sebagai pengajar ia berdiri,
di hadapan mahasiswa setiap hari,
membawa buku, membawa teori,
tetapi juga membawa suara negeri.

Sebab ilmu yang kehilangan tanah,
mudah menjadi kata-kata indah,
tetapi tidak menyentuh luka sejarah,
tidak pula mengenal wajah masyarakatnya.

51

Di ruang kuliah ia berbicara,
tentang sejarah, bahasa dan manusia,
sementara di luar ruang yang sama,
pena terus mencatat denyut Aceh yang nyata.

Kampus dan masyarakat bukan dua dunia,
keduanya bertemu dalam kata,
yang satu mengajarkan cara membaca,
yang lain mengajarkan apa yang harus dibaca.

52

Sejak masa mahasiswa pena bergerak,
menulis gagasan, menyusun jejak,
kata-kata dikirim kepada media cetak,
agar pikiran tidak mati di dalam benak.

Tulisan demi tulisan dilahirkan,
dari kegelisahan dan pengamatan,
Aceh dibaca dari berbagai persoalan,
bukan hanya dari halaman pelajaran.

53

Media menjadi ruang yang lain,
tempat suara kecil dapat bermain,
sebuah gagasan yang ditulis dengan yakin,
dapat menjangkau pembaca yang tak pernah ditemui sebelumnya.

Ia belajar dari dunia kepenulisan,
bahwa pena membutuhkan ketekunan,
sebab satu tulisan mungkin dilupakan,
tetapi kebiasaan menulis membentuk ketahanan.

54

Maka kampus memberinya ilmu,
media memberinya ruang bertemu,
sedangkan hikayat memberinya sesuatu,
yang lebih dalam daripada sekadar pengetahuan itu.

Di dalam hikayat ia menemukan,
Aceh yang berbicara dari masa silam,
tentang agama, adat dan kehidupan,
tentang manusia yang mencari Tuhan.

55

Ia tidak melihat hikayat sebagai dongeng,
yang selesai ketika halaman ditutup dan hilang,
di sana tersimpan pandangan tentang orang,
tentang benar-salah, tentang hidup dan pulang.

Hikayat menyimpan suara masyarakat,
yang kadang tidak masuk buku sejarah resmi,
ia membawa ingatan rakyat,
dalam bahasa yang diwariskan turun-temurun.

56

Karena itu pena dan hikayat,
perlahan menjadi dua sisi amanat,
yang satu mencatat zaman yang lewat,
yang lain menjaga agar ia tetap dekat.

Ia membaca bukan hanya untuk tahu,
tetapi untuk memahami sesuatu,
mengapa leluhur menulis begitu,
dan mengapa generasi kini harus membacanya pula.

57

Di sinilah seorang dosen berubah,
dari sekadar pengajar menjadi penjaga,
karena ilmu yang telah diterima,
menuntut balasan dalam bentuk pengabdian nyata.

Buku bukan hanya bahan kuliah,
naskah bukan sekadar benda tua,
keduanya adalah jendela,
tempat generasi melihat wajah bangsanya.

58

Mahasiswa pun datang membawa tanya,
tentang teks yang dahulu terasa asing,
tentang bahasa yang mulai menjauh dari telinga,
tentang cerita yang hampir kehilangan pembaca.

T.A. Sakti membuka halaman perlahan,
membiarkan teks berbicara dengan caranya,
agar mahasiswa tidak sekadar menghafalkan,
tetapi belajar mendengar suara masa.

59

Begitulah sastra masuk ke ruang akademik,
bukan sebagai benda mati di rak buku,
tetapi sebagai pengalaman yang hidup,
yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Satu hikayat dapat menjadi pelajaran,
satu kata dapat membuka penelitian,
satu nama dapat melahirkan pertanyaan,
dan satu naskah dapat mengubah cara memandang zaman.

60

Pena T.A. Sakti terus berjalan,
melewati kampus dan halaman koran,
melewati ruang penelitian dan pergaulan,
mencari tempat bagi suara yang terlupakan.

Ia tidak memilih kata demi pujian,
tidak pula mengejar gemerlap penghargaan,
sebab bagi penulis yang telah menemukan jalan,
menulis adalah bentuk pertanggungjawaban.

61

Ada tulisan yang lahir dari kegelisahan,
ada yang tumbuh dari penelitian,
ada yang berangkat dari pengalaman,
dan ada yang muncul karena kecintaan.

Namun semuanya bertemu di satu titik:
Aceh tidak boleh kehilangan suara,
bahasa tidak boleh kehilangan pemilik,
dan sejarah tidak boleh kehilangan pembacanya.

62

Dari kampus ia belajar disiplin,
dari buku ia belajar menimbang,
dari media ia belajar menyampaikan,
dari hikayat ia belajar mendengarkan.

Mendengarkan orang-orang yang telah tiada,
yang meninggalkan kata sebagai pusaka,
yang mungkin tidak pernah menyangka,
bahwa berabad kemudian masih dibaca.

63

Maka menjadi penulis bukan hanya menulis,
kadang ia berarti menjaga yang nyaris habis,
mengumpulkan serpihan yang hampir terkikis,
lalu menyusunnya agar kembali bernyawa.

T.A. Sakti berjalan di wilayah itu,
antara akademik dan sastra bertemu,
antara penelitian dan pengabdian menyatu,
antara pena dan tanggung jawab berpadu.

64

Di luar kampus zaman terus berubah,
surat kabar berganti wajah dan arah,
cara orang membaca pun berubah,
tetapi kebutuhan akan ingatan tidak pernah musnah.

Teknologi boleh datang silih berganti,
layar boleh memenuhi ruang dan hari,
tetapi tanpa isi yang diwarisi,
sebuah bangsa mudah kehilangan jati diri.

65

Karena itu ia tetap kembali,
kepada teks yang lama menanti,
kepada aksara yang sunyi,
kepada hikayat yang meminta dibaca kembali.

Jawoe mempertemukan masa,
kampus mempertemukan manusia,
pena mempertemukan keduanya,
dan pengabdian memberi semuanya makna.

66

Ada saatnya seorang guru bertanya,
apa arti ilmu setelah bertahun-tahun bekerja?
Jawabannya bukan banyaknya gelar di dada,
melainkan berapa banyak yang dapat diselamatkannya.

Sebab ilmu yang hanya tinggal pada diri,
akan berhenti bersama tubuh yang pergi,
tetapi ilmu yang diwariskan kembali,
dapat hidup melampaui usia sendiri.

67

T.A. Sakti memahami jalan itu,
barangkali bukan dalam satu waktu,
tetapi melalui perjalanan panjang yang ditempuh,
dari mahasiswa hingga menjadi guru.

Ia menulis karena harus berkata,
ia mengajar karena harus berbagi,
ia membaca hikayat karena percaya,
bahwa bangsa harus mengenal ingatannya sendiri.

68

Di antara pena dan papan tulis,
di antara naskah dan ruang diskusi,
terbentuklah sebuah pengabdian yang lirih,
tetapi panjang jejaknya di kemudian hari.

Tidak banyak bunyi yang dibuat,
tidak banyak pintu yang diketuk keras,
ia bekerja melalui halaman dan kata,
seperti sungai yang mengukir batu dengan sabar.

69

Hikayat pun tidak lagi sendirian,
ia masuk ke ruang pembelajaran,
menjadi bahan pembicaraan,
menjadi pintu menuju penelitian.

Mahasiswa membaca nama-nama lama,
yang dahulu hanya hidup dalam cerita,
dan perlahan mereka mengerti bahwa,
sejarah Aceh tidak selesai di buku sejarah saja.

70

Ada dunia yang lebih luas di sana,
dunia yang tersimpan dalam bahasa,
dalam ungkapan, dalam cerita,
dalam doa yang diwariskan leluhur kepada kita.

Maka membaca hikayat berarti membaca manusia,
membaca ketakutan, cinta dan cita-cita,
membaca hubungan manusia dengan sesama,
dan akhirnya membaca hubungan manusia dengan Yang Mahakuasa.

71

Pena T.A. Sakti semakin menemukan arah,
bukan sekadar menjadi alat untuk berkata,
tetapi menjadi jembatan yang menjaga,
agar masa lalu tidak putus dari masa kini.

Di satu sisi ada kampus,
dengan teori dan penelitian yang serius,
di sisi lain ada hikayat yang tulus,
menyimpan pengalaman manusia yang luas.

72

Keduanya tidak harus dipertentangkan,
ilmu dan sastra dapat berjalan berdampingan,
sebab ilmu memberi cara memahami,
sedangkan sastra memberi kedalaman pada hati.

Dan ketika keduanya bertemu,
lahirlah pengabdian yang lebih utuh,
bukan hanya tahu tentang masa lalu,
tetapi merasa bertanggung jawab terhadapnya.

73

T.A. Sakti pun terus menulis,
membawa Aceh ke halaman yang lebih luas,
agar cerita tidak hanya berbisik,
di antara orang-orang yang sudah mengenalnya.

Ia ingin pembaca yang jauh sekalipun,
dapat menemukan Aceh melalui tulisan,
bukan sebagai nama di peta semata,
melainkan sebagai negeri dengan ingatan.

74

Sebab sebuah daerah dapat kehilangan suara,
bukan karena bahasanya langsung sirna,
tetapi ketika orang-orang terdidiknya
berhenti menulis tentang apa yang mereka punya.

Maka pena adalah bentuk keberanian,
untuk berkata kepada zaman:
kami masih mempunyai ingatan,
dan kami tidak ingin melepaskannya.

75

Di sinilah T.A. Sakti berdiri,
bukan sebagai manusia yang telah selesai,
tetapi sebagai penulis yang terus mencari,
bagaimana ilmu menjadi cahaya bagi negeri.

Kampus memberinya ruang berpikir,
media memberinya ruang berbicara,
hikayat memberinya ruang menggali,
dan masyarakat memberinya alasan untuk terus berkarya.

76

Jika kelak mahasiswa bertanya,
mengapa hikayat harus dibaca kembali?
Jawabannya mungkin sederhana:
karena manusia membutuhkan cermin untuk mengenali diri.

Dan jika mereka bertanya pula,
mengapa aksara lama harus dijaga?
Sebab setiap aksara yang hilang,
mungkin membawa satu pintu ingatan yang tertutup selamanya.

77

Maka pena tidak boleh berhenti,
selama masih ada halaman yang menanti,
selama masih ada hikayat yang sunyi,
selama masih ada generasi yang belum mengerti.

T.A. Sakti memilih terus berjalan,
di antara kampus, buku dan tulisan,
membawa hikayat keluar dari kesunyian,
menuju pembaca, menuju zaman.

78

Dan pada akhirnya kita mengerti,
pena bukan hanya alat untuk menulis puisi,
kampus bukan hanya tempat mencari ijazah,
hikayat bukan hanya cerita masa lalu.

Ketiganya dapat menjadi jalan pengabdian:
ilmu memberi arah,
pena memberi suara,
dan hikayat menjaga ingatan.

79

Di situlah seorang penulis diuji,
bukan ketika namanya mulai dikenal,
melainkan ketika ia tetap menulis
meski dunia belum tentu peduli.

Karena ada pekerjaan yang tidak segera terlihat,
tetapi menentukan hidup sebuah masyarakat:
menjaga kata, menjaga naskah, menjaga ingatan,
agar generasi berikutnya tidak berjalan tanpa jejak.

80

T.A. Sakti telah memilih jalannya,
dari ruang kampus menuju halaman hikayat,
dari halaman hikayat menuju masyarakat,
dari masyarakat kembali kepada amanat.

Dan pena yang dahulu kecil di tangannya,
perlahan menjadi jembatan antargenerasi.

Di satu ujung berdiri
mereka yang telah pergi.

Di ujung yang lain
anak-anak yang belum lahir.

Di tengahnya—

seorang penulis menjaga kata
agar kedua zaman
masih dapat saling menyapa.

Sumber : Siaran Jawoe Aceh, September 2026