PROLOG
KETIKA HIKAYAT HAMPIR DIAM
Ada masa
ketika sebuah negeri
hampir kehilangan suaranya.
Bukan karena
tidak ada yang berbicara,
melainkan karena
semakin sedikit
yang mau mendengar.
Di sebuah sudut Aceh,
di antara rumah-rumah
yang menyimpan ingatan,
ada lembaran tua
yang perlahan menguning.
Huruf-hurufnya
tidak lagi mudah dibaca.
Jawoe
berbaris seperti jejak kaki
orang-orang yang telah lama pergi.
Sebagian nama
telah dilupakan.
Sebagian cerita
telah kehilangan lidahnya.
Sebagian hikayat
hanya menunggu
sebuah tangan
untuk membukanya kembali.
Di situlah
perjuangan kebudayaan
sering kali bermula:
bukan dari panggung besar,
bukan dari tepuk tangan,
tetapi dari seseorang
yang bersedia duduk lama
di hadapan sebuah naskah.
Membaca.
Meneliti.
Menyalin.
Mengulang.
Lalu membaca kembali.
T.A. Sakti
memilih jalan itu.
Ia tidak datang
untuk membuat masa lalu
menjadi patung.
Ia datang
untuk membuatnya kembali
berbicara.
Sebab hikayat
bukan sekadar cerita lama.
Di dalamnya
ada suara manusia.
Ada doa.
Ada ketakutan.
Ada keberanian.
Ada cinta.
Ada pengkhianatan.
Ada agama.
Ada adat.
Ada kekuasaan.
Ada rakyat kecil
yang namanya mungkin
tidak pernah masuk
ke dalam buku sejarah resmi.
Semua bercampur
di dalam kata.
Semua menunggu
untuk dibaca.
Tetapi membaca
naskah lama
tidak semudah membuka
buku baru.
Ada aksara
yang harus dikenali.
Ada kata
yang harus dipahami.
Ada bahasa
yang telah berubah.
Ada konteks
yang harus ditelusuri.
Dan ada satu hal
yang paling penting:
kesetiaan.
Kesetiaan kepada teks.
Kesetiaan kepada ilmu.
Kesetiaan kepada ingatan.
Kesetiaan kepada kebenaran
sejauh manusia mampu
mencarinya.
Di antara
huruf Jawoe dan huruf Latin,
T.A. Sakti berdiri
sebagai jembatan.
Yang satu datang
dari masa silam.
Yang satu menunggu
dibaca oleh masa kini.
Jembatan itu
tidak boleh memutus
kedua tepi.
Ia harus menghubungkan.
Karena sebuah bangsa
tidak hanya hidup
dari apa yang sedang terjadi.
Ia juga hidup
dari apa yang pernah
diingatnya.
Jika ingatan hilang,
manusia mudah kehilangan
arah pulang.
Ia mungkin tahu
ke mana hendak pergi,
tetapi tidak tahu
dari mana ia berasal.
Maka menjaga hikayat
sesungguhnya adalah
menjaga kemungkinan
agar manusia tetap
mengenal dirinya.
Aceh mempunyai
begitu banyak suara.
Suara ulama.
Suara sultan.
Suara panglima.
Suara rakyat.
Suara ibu
yang menidurkan anaknya
dengan cerita.
Suara orang tua
yang menyimpan sejarah
di dalam ingatan.
Suara penyair
yang menulis penderitaan
menjadi kata.
Dan suara para penyalin
yang bekerja dalam sunyi.
T.A. Sakti
berada di antara
suara-suara itu.
Ia membaca
apa yang hampir tidak dibaca.
Ia menyalin
apa yang hampir tidak dikenal.
Ia membawa
aksara lama
menuju mata baru.
Tetapi pekerjaan itu
bukan sekadar pekerjaan tangan.
Ia adalah pekerjaan jiwa.
Sebab setiap naskah
membawa amanah.
Jika salah membaca,
makna dapat berubah.
Jika sembarangan menyalin,
jejak dapat terputus.
Jika tidak diwariskan,
ingatan dapat mati.
Karena itu
pena seorang penjaga
harus lebih sabar
daripada zaman.
Ia tidak boleh tergesa.
Ia harus tahu
bahwa satu kata
kadang menyimpan
sebuah dunia.
Satu nama
dapat membuka
sebuah sejarah.
Satu hikayat
dapat memperlihatkan
cara manusia masa lalu
memandang kehidupan.
Namun hikayat
juga harus dibaca
dengan kecerdasan.
Tidak semua cerita
harus dianggap sebagai
catatan sejarah harfiah.
Tidak semua kisah
harus ditolak
karena mengandung
imajinasi.
Hikayat mempunyai
ruang kebenarannya sendiri:
kebenaran tentang
ingatan manusia,
tentang cara sebuah masyarakat
memahami dunia,
tentang nilai
yang hendak diwariskan,
tentang ketakutan
dan harapan
yang pernah hidup
dalam sebuah zaman.
Maka membaca hikayat
adalah membaca manusia.
Dan membaca manusia
adalah membaca diri.
T.A. Sakti
telah berjalan
di antara halaman-halaman itu.
Sementara waktu
terus bergerak.
Generasi berganti.
Teknologi berubah.
Bahasa berubah.
Cara manusia membaca
pun berubah.
Tetapi pertanyaan dasarnya
tetap sama:
Siapa kita?
Dari mana kita datang?
Apa yang telah diwariskan
kepada kita?
Dan yang paling berat:
Apa yang akan kita wariskan
kepada mereka
yang datang sesudah kita?
Pertanyaan itulah
yang membuat sebuah naskah tua
tidak pernah benar-benar tua.
Ia terus menunggu.
Menunggu pembaca.
Menunggu peneliti.
Menunggu guru.
Menunggu penyair.
Menunggu anak muda
yang suatu hari nanti
membuka halaman
dan berkata:
“Ini suara nenek moyangku.”
Mungkin saat itu
seorang anak
baru mengerti:
bahwa dirinya
tidak lahir dari ruang kosong.
Di belakang tubuhnya
ada sejarah.
Di belakang bahasanya
ada generasi.
Di belakang adatnya
ada perjalanan panjang.
Di belakang setiap kata
ada manusia
yang pernah hidup,
mencintai,
berjuang,
berdoa,
dan akhirnya
kembali kepada tanah.
Maka buku ini
bukan sekadar
riwayat seorang tokoh.
Ia adalah perjalanan
menelusuri sebuah amanah.
Tentang seseorang
yang memilih menjaga
ketika sebagian orang
mulai melupakan.
Tentang naskah
yang menolak mati.
Tentang aksara
yang mencari pembaca.
Tentang hikayat
yang ingin kembali
ke rumahnya.
Dan tentang Aceh
yang sesungguhnya
masih menyimpan
begitu banyak suara.
Kita hanya perlu
membuka pintunya.
Kita hanya perlu
mau mendengar.
Karena kadang-kadang
yang hilang dari sebuah negeri
bukan tanahnya,
bukan lautnya,
bukan gunungnya,
melainkan ingatannya.
Dan ketika ingatan
mulai hilang,
seorang penjaga
harus berdiri.
Bukan dengan pedang.
Bukan dengan kuasa.
Tetapi dengan pena.
Dengan kesabaran.
Dengan ilmu.
Dengan doa.
T.A. Sakti
memilih pena itu.
Dan dari pena itulah
kita akan memasuki
sebuah perjalanan:
dari Bucue
menuju ilmu,
dari Jawoe
menuju hikayat,
dari hikayat
menuju sejarah,
dari sejarah
menuju ingatan,
dan dari ingatan
kembali kepada manusia.
Pada akhirnya,
mungkin kita akan menemukan
bahwa yang sedang kita baca
bukan hanya riwayat
T.A. Sakti.
Kita sedang membaca
sebagian dari diri kita sendiri.
Bismillah.
Mari kita buka
halaman pertama.
Sumber : Siaran Jawoe Aceh, September 2026