BAB II

KETIKA JAWOE MEMANGGIL

23 Ada masa manusia mencari, ke mana langkah hendak pergi, gelar dan ilmu telah dimiliki, namun hati belum menemukan diri.

24 T.A. Sakti telah belajar, dari kampus, buku dan lembar, sejarah mengajarkan masa berputar, bahwa yang hilang belum tentu benar-benar pudar.

25 Di tanah Aceh tersimpan cerita, bukan hanya di batu dan prasasti, tetapi pada lembar yang tua, pada huruf Jawoe yang menunggu dibaca.

26 Huruf itu tampak sederhana, tetapi menyimpan dunia manusia, ada agama, adat dan budaya, ada luka, cinta dan sejarah bangsa.

27 Ia mendekati lembar demi lembar, membaca perlahan dengan sabar, seakan mendengar suara yang bergetar, dari orang-orang yang telah lama tersiar.

28 Sejak tahun sembilan dua, jalan hikayat menjadi pilihannya, bukan pekerjaan mengejar nama, melainkan ikhtiar menjaga pusaka.

29 Jawoe bukan sekadar aksara, ia rumah bagi ingatan Aceh, bila rumah itu runtuh dimakan usia, siapa lagi tempat cerita bernaung dan singgah?

30 Maka pena mulai bekerja, huruf lama dipindahkan dengan saksama, dari Jawoe menuju aksara Latin terbaca, agar hikayat kembali menjumpai manusia.

31 Namun memindahkan bukan berarti mengubah, bukan pula memperindah sesuka, sebab di dalam kata ada sejarah, dan di dalam bahasa ada jiwa.

32 Satu kata jangan sembarang diganti, satu bunyi jangan diputuskan sendiri, sebab teks bukan milik hari ini, ia titipan dari masa yang telah pergi.

33 Begitulah ia bekerja dalam sunyi, membaca, menyalin, memeriksa kembali, sementara dunia mungkin tidak peduli, ia tahu satu naskah berarti satu memori.

34 Hikayat Meudeuhak datang menyapa, Banta Keumari membuka cerita, Aulia Tujoh berdiri di antara masa, Nabi Yusuf kembali bersuara.

35 Tajussalatin ikut dibaca, Akhbarul Karim dijaga aksara, Muda Balia tidak dibiarkan sirna, Tambeh Tujoh pun memperoleh jalan baca.

36 Yang dikerjakan bukan sekadar buku, bukan pula mengejar banyak judul, ia sedang membuka pintu waktu, agar generasi kemudian dapat menengok dahulu.

37 Sebab sebuah bangsa bisa lupa, bukan karena tak punya sejarah, melainkan karena tak lagi membaca,apa yang pernah diwariskan leluhur kepadanya.

38 Di sinilah pena menjadi saksi, bahwa ilmu bukan hanya untuk diri, ilmu akan menjadi lebih berarti, bila kembali kepada masyarakat dan negeri.

39 T.A. Sakti memilih jalan itu, antara naskah, kampus dan waktu, menjaga hikayat yang hampir bisu, agar suara Aceh tetap terdengar merdu.

40 Di kemudian hari mahasiswa datang, mencari hikayat yang dahulu asing, di hadapan mereka naskah dibentangkan,sejarah bukan lagi sekadar dinding.

41 Bahkan pada sebuah pertemuan, ia membaca naskah tulisan tangan, Hikayat Indra Budiman diperdengarkan,bahasa Aceh kembali menjadi suara pembelajaran.

42 Rumahnya menjadi ruang bertanya, naskah menjadi guru yang bernyawa, generasi muda datang membaca, mendengar hikayat dari sumbernya.

43 Maka Jawoe yang dahulu sunyi,kembali memiliki telinga dan hati,sebab seorang manusia tekun berdiri, menjembatani masa lalu dengan hari ini.

44 Wahai anak cucu Aceh nanti, jangan hanya bertanya siapa raja, tanyakan pula siapa yang menjaga, ketika naskah hampir kehilangan pembaca.

45 Sebab sejarah tidak hanya milik istana, tidak hanya milik orang yang berkuasa, ia juga hidup dalam hikayat dan bahasa,yang diselamatkan oleh tangan-tangan sederhana.

46 T.A. Sakti telah memilih, menjaga kata sebelum menjadi sedih, menyelamatkan aksara sebelum bersih dihapus waktu dari halaman sejarah.

47 Mungkin pena itu kecil, dibanding suara zaman yang gaduh, tetapi dari goresan yang kecil sebuah peradaban dapat tumbuh.

48 Dan bila kelak ia ditanya, apa yang telah diberikan kepada bangsa, barangkali jawabnya tidak berupa mahkota, melainkan hikayat yang masih bisa dibaca.

Sumber : Siaran Jawoe Aceh, September 2026